Tuesday, April 12, 2005

Menstruasi

Kutukan dari masa Lalu?

Semenjak dahulu kala, orang banyak berbicara tentang ketimpangan sosial berdasarkan jenis kelamin tetapi hasilnya belum banyak mengalami kemajuan. Persepsi itu memang sulit dihilangkan karena berakar dari atau didukung oleh ajaran teologi. Padahal Max Weber pernah menegaskan bahwa tidak mungkin mengubah perilaku masyarakat tanpa mengubah sistem etika, dan tidak mungkin mengubah etika tanpa meninjau sistem teologi dalam masyarakat.

Diskursus mengenai perempuan, seringkali terlalu tematis sehingga dilupakan persoalan asasinya. Mereka percaya bahwa perempuan ideal ialah mereka yang bisa hidup di atas kodratnya sebagai perempuan, dan kodrat itu dipahami sebagai takdir (divine creation), bukan konstruksi masyarakat (social construction). Padahal, peran perempuan tak akan pernah bisa dilepaskan dari lingkungannya, dimana kesadaran akan hal tersebut akan tumbuh secara signifikan, sejalan dengan semakin tumbuhnya kedewasaan seseorang.

Bicara kedewasaan, wanita terutama. biasanya kita akan melihatnya dari cara berpikir, cara berbicara, dan cara dia menyelesaikan masalah yang muncul. Selain itu, dapat pula kita amati dari perubahan-perubahan siklik pada alat kandungannya sebagai persiapan untuk kehamilan. Perubahan-perubahan siklik inilah, yang dalam tulisan ini akan coba dipaparkan, dalam berbagai sudut, mulai dari sejarah, kacamata kebidanan (untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi), dan apa yang seharusnya menjadi sikap kita dalam menyikapi hal “kedewasaan” ini.

Dari masa yang telah lalu
Mitologi Mesir Kuno dan Asia Tengah pada umumnya, yang menganut faham The Mother God. Bulan misalnya dianggap sebagai "Ibu Alam Semesta" (The Mother, of Universe) karena mempunyai cahaya yang membawa kesuburan dan sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup. Namun demikian, tak kurang anggapan negatif dan bahkan sampai ke kutukan tentang berbagai hal yang menyangkut perempuan. Seperti mitos tentang wanita haid seolah-olah ia tidak dipandang dan diperlakukan sebagai manusia, karena selain harus diasingkan juga harus melakukan berbagai kegiatan ritual yang berat. Bangsa arab, sebelum datangnya Islam, punya anggapan memiliki anak perempuan adalah sebuah kesialan, dan untuk itu, harus dibunuh.

Di antara kutukan perempuan yang paling monumental ialah menstruasi. Teologi menstruasi ini kemudian menyatu dengan berbagai mitos yang berkembang dari mulut ke mulut (oral tradition) ke berbagai belahan bumi. Teologi menstruasi dianggap berkaitan dengan pandangan kosmopolitan terhadap tubuh wanita yang sedang menstruasi. Perilaku perempuan di alam mikrokosmos diyakini mempunyai hubungan kausalitas dengan alam makrokosmos. Peristiwa-peristiwa alam seperti bencana alam, kemarau panjang dan berkembangnya hama penyebab gagalnya panen petani dihubungkan dengan adanya yang salah dalam diri perempuan.

Menurut kepercayaan Yahudi, darah menstruasi (menstrual blood) dianggap darah tabu (menstrual taboo) dan perempuan yang sedang menstruasi, harus hidup dalam menstrual huts, yakni suatu gubuk khusus yang dirancang untuk tempat hunian para perempuan menstruasi atau mengasingkan diri di dalam goa-goa, tidak boleh bercampur dengan keluarganya, tidak boleh berhubungan seks, dan tidak boleh menyentuh jenis masakan tertentu, dan bila tetap memasak, masakannya tidak layak dimakan oleh orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Satu hal yang lebih penting ialah tatapan mata (menstrual gaze) dari mata wanita sedang menstruasi yang biasa disebut dengan "mata iblis" (evil eye) yang harus diwaspadai, karena diyakini bisa menimbulkan berbagai bencana. Perempuan harus mengenakan identitas diri sebagai isyarat tanda “bahaya” (signals of warning) manakala sedang menstruasi, supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo. Dari sinilah asal-usul penggunaan kosmetik yang semula hanya diperuntukkan kepada perempuan sedang menstruasi. Barang-barang perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang, anting-anting, sandal, selop, lipstik, shadow, celak, termasuk cadar/jilbab (hoods/veils) ternyata adalah aksesories yang menjadi penanda bahwa seorang wanita sedang berada pada masa mens (menstrual creations).

Kerudung/cadar , dianggap mampu menghalangi dan sekaligus mencegah "si mata Iblis" dalam melakukan aksinya. Dengan memakainya, pandangan mata seorang perempuan yang sedang dalam masa menstruasi terhadap cahaya matahari dan sinar bulan, dapat dihalangi. Dalam masa itu, pandangan perempuan yang sedang menstruasi dianggap tabu dan dapat menimbulkan bencana di dalam masyarakat dan lingkungan alam. Selain mengenakan cadar perempuan haid juga menggunakan cat pewarna hitam (cilla') di daerah sekitar mata guna mengurangi ketajaman pandangan matanya. Ada lagi yang menambahkan dengan memakai kalung dari bahan-bahan tertentu seperti dari logam, manik-manik, dan bahan dari tengkorak kepala manusia.

Tradisi Yahudi ini kemudian runtuh secara perlahan, saat Islam masuk. Nabi Muhammad SAW, memiliki pendapat yang lain, bahwasanya "lakukanlah segala sesuatu (kepada isteri yang sedang haydl) kecuali bersetubuh". Pernyataan Rasulullah ini sampai kepada orang-orang Yahudi, lalu orang-orang Yahudi dan mantan penganut Yahudi seperti shock mendengarkan pernyataan tersebut. Apa yang selama ini dianggap tabu tiba-tiba dianggap sebagai "hal yang alami". Untunglah, kita tidak hidup di masa lalu yang untuk mencari jalan keluar dari masalah rutinitas biologis kewanitaan saja harus berhadapan dengan tetek bengek peraturan.

Apa yang sebenarnya terjadi
Proses haid atau mensis, dalam istilah kebidanan, terjadi bila tidak adanya proses pembuahan, sehingga korpus luteum berdegenerasi dan ini mengakibatkan bahwa kadar estrogen dan progesteron menurun. Hal ini ber-efek pada arteri yang berkeluk-keluk di endometrium (dinding rahim), dan menampakkan dilatasi dan statis dengan hyperemia yang diikuti oleh spasem dan iskemia. Sesudah itu terjadi degenerasi serta pelepasan endometrium yang nekrotik. Inilah yang biasanya dilihat sebagai darah haid, dan menjadi “urusan mengisi rekening” dari berbagai kalangan industrialis yang berslogan ‘anti bocor’, ‘anti tembus’ dan ’pake sayap’ itu.

Lamanya siklus haid yang normal atau yang dianggap sebagai siklus haid klasik adalah 28 hari ditambah atau dikurangi dua sampai tiga hari. Siklus ini dapat berbeda-beda pada wanita yang normal dan sehat.
Pada tiap siklus dikenal tiga masa utama, ialah sebagai berikut:
Masa haid selama dua sampai delapan hari. Pada waktu itu, endometrium lepas dilepas, sedangkan pengeluaran hormon-hormon ovarium paling rendah (minimum)
Masa Proliferasi sampai hari kempat belas. Pada waktu itu, endometrium tumbuh kembali, disebut juga endometrium mengadakan proliferasi. Antara hari kedua belas dan keempat belas dapat terjadi pelepasan ovum dari uvarium yang disebut ovulasi.
Sesudahnya, dinamakan masa sekresi. Pada ketika itu, korpus robrum menjadi korpus luteum yang mengeluarkan progesterone. Di bawah pengaruh hormon ini, kelenjar endometrium tumbuh berkeluk-keluk mulai bersekresi dan mengeluarkan getah yang mengandung likogen dan lemak. Pada masa ini stroma endometrium berubah ke arah sel-sel desidua, terutama yang berada di sekitar pembuluh-pembuluh arterial. Keadaan ini memudahkan adanya nidasi.


Lalu ……..
Istilah menstruasi dalam literatur Islam disebut haydl, dimana dalam al-Qur'an hanya disebutkan empat kali dalam dua ayat. Dari segi penamaan saja, kata haydl sudah lepas dari konotasi teologis seperti agama-agama dan kepercayaan sebelumnya. Masalah haydl dijelaskan dalam Q., s. al-Baqarah/1:222:
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah: "Haydl itu adalah 'kotoran' oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haydl; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Al-Razi dalam tafsirnya memberikan alternatif lain dengan mengatakan bahwa kalimat al-mahidl yang pertama berarti al-haydl, sedangkan yang kedua berarti tempat haid. Implementasi dari pengertian ini ialah persoalan haid sebagaimana yang ditanyakan sahabat Nabi dan sekaligus menjadi sabab nuzul ayat itu hanyalah persoalan fisik-biologis, tempat keluarnya darah haidh itu bukan persoalan tabunya darah haid seperti yang dipersepsikan oleh umat-umat terdahulu.

Perintah untuk "menjauhi" (fa'tazilu) dalam ayat di atas bukan berarti menjauhi secara fisik (li al-tab'id) tetapi memisahkan atau menghindarkan diri untuk tidak berhubungan langsung (i'tizal). Sedangkan darah haid disebut al-adzan karena darah tersebut adalah darah tidak sehat dan tidak diperlukan lagi oleh organ tubuh wanita. Bahkan kalau darah itu tinggal di dalam perut akan menimbulkan masalah, karena itulah disebut adzan.
Dalam ilmu kebidanan juga disebutkan bahwasanya proses mens merupakan sebuah proses degenerasi sel-sel untuk reproduksi yang berlaku secara rutin, dalam siklus bulan. Jadi, sebenranya bukan sebuah masalah yang aneh. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapinya secara dewasa dan logis. Yang jelas, kalau setelah selesai haid, harus “bebersih”. Mengenai pembersihan diri (thaharah) dari haydl, dalam Islam tidak pula dikenal adanya upacara ritual khusus seperti dalam agama Yahudi dan kepercayaan-kepercayaan sebelumnya. Jumhur ulama berpendapat bahwa sesudah hari ketujuh ia sudah dapat dianggap bersih setelah mandi, kecuali Abu Hanifah berpendapat tidak harus mandi tapi cukup membersihkan tempat keluarnya darah haid dan juga tidak perlu menunggu tujuh hari. Sekalipun kurang tujuh hari kalau sudah merasa bersih sudah dapat melakukan ibadah secara rutin.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Free Web Site Template