Saturday, March 12, 2005

Seks yang tertindas

Dewasa ini, kondisi sosial yang sangat menutup diri terhadap seks. Sebuah hal yang sangat tabu, yang tidak pantas untuk dibicarakan secara publik, sehingga terbatas hanya pada urusan privat dan pantang untuk dijadikan wacana bebas. Justru persoalan seksualitas menjadi semakin kompleks karena masyarakat menganggapnya tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Karena tabu inilah berbagai persoalan seksualitas bukan semakin jelas, tapi justru kian tersembunyi dengan berbagai kepentingan di dalamnya.

Karena tabunya seksualitas, sering terjadi konflik dalam sosial yang tidak jauh-jauh hubungannya dengan seksualitas. Berbagai interpretasi masyarakat tentang seksualitas semakin beragam. Ada yang menganggapnya sangat tabu untuk diperbincangkan, namun ada juga sekelompok masyarakat yang merasa fine-fine saja dalam membicarakan seksualitas. Perbedaan interpretasi masyarakat inilah yang memicu konflik. Masyarakat A yang menganggap seks sangat tabu merasa terganggu dengan masyarakat B yang terang-terangan mengangkat seks ke permukaan. Misalnya saja kasus Inul. Bisa kita saksikan bersama gejolak masyarakat kita yang bereaksi negatif dan mengecam habis-habisan penampilan Inul. Bahkan masyarakat A tidak segan-segan mengusir Inul apabila tampil di daerah mereka. Namun, tidak semua masyarakat kita yang menentang ‘goyang Inul’. Ada juga masyarakat kita yang tidak merasa terganggu dengan kehadiran Inul, bahkan memandang ‘goyang Inul’ sebagai kebebasan berseni dan berekspresi.
Terprivatisasinya seksualitas atau tertindasnya seksualitas selain bisa menyebabkan konflik sosial, juga bisa menimbulkan kesadaran orang tentang tatanan sosial seksualitas yang diskriminatif, eksploitatif, dan oppresif.

Pengertian masyarakat tentang seksualitas itu sendiri sebenarnya masih sangat sempit (hal ini terjadi karena alasan terkungkungnya seksualitas dalam sosial). Seksualitas dalam pikiran masyarakat hanya sebatas hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Seksualitas dipahami sempit sebagai isu biologis dan hubungan seks semata; hubungan seks yang dimaksudkan pun direduksi lagi menjadi hanya pada hubungan badan antara laki-laki dan perempuan (heteroseksual). Padahal, seksualitas jauh lebih luas dari sekadar persoalan biologis, apalagi hanya urusan hubungan badan. Seksualitas mencakup seluruh kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian, sikap dan bahkan watak sosial, berkaitan dengan perilaku dan orientasi atau preferensi seksual. Akibat tabu itulah, pemahaman seksualitas mengalami reduksi bahkan distorsi. Bisa dipahami jika wacana seksualitas selama ini tidak paralel dengan perkembangan seksualitas sendiri yang terus berkembang.


Ada dua pendekatan yang selama ini dipakai untuk memahami seksualitas. Pendekatan tersebut ialah pendekatan esensialis dan non-esensialis. Pendekatan esensialis, mereduksi seksualitas sekadar dorongan alamiah-biologis yang hadir sebelum adanya kehidupan sosial. Seksualitas dikonsepsikan sebagai kekuatan instingtif (naluriah) yang menggerakkan dan menguasai individu dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Jika kekuatan ini tidak disalurkan ke dalam ekspresi seksual yang langsung, maka ia akan muncul sebagai kelainan kejiwaan atau neurosis. Selain itu, seksualitas juga dianggap sebagai dorongan yang sifatnya maskulin dan heteroseksual. Sedangkan pendekatan non-esensialis beranggapan bahwa pemahaman seksualitas tidak dapat direduksi ke dalam dorongan naluriah yang ada sejak lahir. Seksualitas dipengaruhi oleh suatu proses pembentukan sosial budaya yang melampaui aspek-aspek pembentukan lain dari perilaku manusia. Pendekatan ini beranggapan bahwa seksualitas adalah hasil bentukan (konstruksi) sosial budaya. Definisi "normal" dan "abnormal", merupakan pendefinisian sosial, seperti halnya "homoseksual", "banci", "wadam", dan lain-lain yang semuanya merupakan mekanisme kontrol. Pendefinisian ini, lanjut Suryakusuma, senada dengan mekanisme kontrol terhadap orang-orang yang dicap "nakal", "berdosa", "pezinah", "gila", "sakit", "patologis", yang semuanya bisa diatur dan dihukum menurut norma sosial yang berlaku dan menurut siapa yang berkuasa pada suatu kurun waktu. Dalam setiap budaya, seksualitas manusia diarahkan dan bahkan kadang diberi struktur yang sangat kaku. Kultus keperawanan, konsep aurat, perkawinan, paham-paham kepantasan pergaulan lelaki dan perempuan, larangan terhadap seks di luar nikah, incest dan homoseksualitas semuanya merupakan regulasi seksualitas.

Dalam tatanan masyarakat partiarkis, konstruksi sosial budaya atas seksualitas digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi laki-laki atas perempuan. Dominasi ini terlihat dari sikap masyarakat yang menempatkan seksualitas perempuan tak lebih sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki di satu sisi dan alat untuk melanjutkan keturunan di sisi lain. Perempuan seolah-olah tidak memiliki kedaulatan terhadap seksualitasnya sendiri.

Pendekatan kedua ini dijadikan perspektif oleh kalangan aktivis perempuan untuk membongkar akar masalah penindasan perempuan, khususnya dalam masalah seksual. Sebab, dengan perspektif kritis inilah, masalah seksualitas perempuan diletakkan tidak dalam posisi pasif dan hanya sebagai subordinat laki-laki, tetapi lebih diposisikan sebagai subyek yang aktif dan punya hak yang sama dengan laki-laki dalam masalah seksualitas. Pembicaraan mengenai seksualitas di dalam masyarakat selama ini memang tidak mengalami perkembangan yang berarti, karena masalah di seputar seksualitas telah ditabukan sedemikian rupa, sehingga masalah seksualitas yang terus berkembang tidak sebanding dengan upaya memahaminya secara lebih lengkap dan konprehensif. Dari privat ke publik perkembangan seksualitas seperti yang kita saksikan sekarang ini sebetulnya adalah hasil dari pasang surut perkembangan sebelumnya. Michel Foucault dalam Seks dan Kekuasaan (1997) memberikan gambaran menarik mengenai pasang surut ini.

Historis Represi Seksualitas
Pada awal abad ke-17, konon masih berlaku keterbukaan tertentu. Kegiatan seksual tidak ditutup-tutupi. Kata-kata bernada seks dilontarkan tanpa keragu-raguan, dan berbagai hal yang menyangkut seks tidak disamarkan. Pada waktu itu yang haram dinyatakan halal. Ukuran tingkah laku vulgar, jorok, tidak santun sangat longgar, jika dibanndingkan dengan abad ke-19. Kita bisa menemukan berbagai kata-kata polos, pelanggaran norma yang terang-terangan, aurat yang dipertontonkan, anak-anak bugil yang lalu-lalang tanpa merasa malu ataupun merangsang reaksi orang dewasa. Semua tenggelam dalam keasyikannya masing-masing.

Namun, keterbukaan bak siang hari itu segera disusul oleh senja, sampai malam monoton menekan semuanya. Kaum borjuasi Victorian (Victoria=Ratu angkuh paritan yang melambangkan seksualitas berciri menahan diri, diam, dan munafik) memainkan aturan main agar seksualitas dipingit rapi, dirumahtanggakan. Dengan mengangkat abad ke-17 sebagai awal masa represi seksual, setelah beratus tahun sebelumnya terdapat kebebasan, wacana ini ini memberi kesan bahwa represi seksual terkait dengan perkembangan kapitalisme, dimana pada masa itu masih menyatu dengan tatanan borjuasi. Seks dilarang sedemikian rupa karena kaum borjuis melihat seks tidak sesuai dengan konsep kerja yang menyeluruh dan intensif. Pada zaman terjadinya eksploitasi sistematis terhadap tenaga kerja, para buruh dipandang terhambur dalam kenikmatan seks, diluar kenikmatan dalam menjamin reproduksi. Suami istri menyitanya dan membenamkan seluruhnya dalam fungsi reproduksi yang hakiki. Orang tidak berani lagi berkata apapun mengenai seks. Hanya pasangan sah yang diijinkan untuk melakukan segalanya yang berhubungan dengan seks. Pasangan sah muncul sebagai model yang mengutamakan norma, memegang kebenaran, mempunyai hak berbicara, dengan tetap memelihara asas kerahasiaan seks. Dalam masyarakat, satu-satunya tempat yang dianggap halal untuk melakukan seks hanyalah tempat tidur orang tua. Selain itu, maka seks dipandang menyimpang.

Segala sesuatu yang tidak diatur untuk menghasilkan keturunan tidak memiliki tempat yang sah dan juga tidak boleh bersuara. Hal ini menimbulkan diskriminasi yang sangat keras terhadap kaum mandul. Mereka disebut sebagai kalangan tidak normal, dan harus siap menerima sanksi sosial.

Seksualitas benar-benar terkubur dalam-dalam. Seksualitas bukan saja dianggap tidak ada, melainkan tidak boleh hadir dan segera ditumpas begitu tampil dalam tindak atau wicara. Misalnya pada anak-anak, karena mereka belum memiliki seks, maka mereka diwajibkan untuk menutup mata dan telinga terhadap seks. Inilah yang direpsresikan ‘penguasa’ terhadap anak-anak, dan kemudian menjadi sebuah budaya, bahwa seks sangat tabu untuk diangkat ke permukann apalagi bila sampai dilihat atau didengar anak-anak.

Sejak seks dikekang dan dilarang, barang siapa yang berani melanggar dalam artian berani membicarakannya seks dan penindasannya, akan dipandang sebagai pelanggaran sengaja. Dan orang-orang yang melanggar hal tersebut akan dipandang sebagai pelanggar hukum. Karena itu dewasa ini seks penuh dibungkus dengan kemunafikan dari arti sesungguhnya yang memang vulgar. Para ahli demografi dan psikiater pada abad ke-19, ketika harus berbicara tentang seksualitas, terlebih dahulu merasa perlu untuk meminta maaf karena menarik perhatian public pada pokok yang bahasan yang begitu nista. Bahkan kita pun sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu selalu pasanga gaya manakala berbicara tentang seks.

Menentang kekuasaan pengungkungan seks secara lantang, mengungkapkan kebenaran, dan sekaligus menjanjikan kepuasan, mengaitkan pencerahan, pembebasan, dan kenikmatan yang tak terhingga, kehendak untuk merombak hukum, hal-hal ini merupakan sebab-sebab yang sesungguhnya mendasari semangat kita ketika mengaitkan seks dengan represi.

Gagasan tentang seks tertindas bukan haya sekadar teori. Pernyataan bahwa seksualitas tidak pernah lebih dikekang daripada zaman borjuasi yang serba munafik dan hitung-hitungan itu muncul bersama suatu wacana baru yang bombastis yang bertujuan untuk membeberkan kebenaran tentang seks, mengubah posisinya dalam kenyataan sehari-hari, menggulingkan hukum yang mengaturnya, dan pada akhirnya, mengubah masa depan : esok pasti datang seks yang baik.

Perkembangan Seksualitas Abad ke-17, ke-18, dan ke-19
Dilihat dari sudut transformasi, abad 17, 18, dan 19, wacana seks ternyata meledak-ledak meskipun masih dalam pengekangan kekuasaan yang melarang seks diangkat ke masalah publik. Bahasa seks yang digunakan memang adalah retorika metafora. Kaidah-kaidah kesantunan baru, tak diragukan lagi telah menyaring kata-kata, seperti ‘polisi’ dalam ujaran.

Namun, pada abad ke-18 wacana seks ternyata mengalami pelipatgandaan. Semakin dilarang, social ternyata semakin didorong untuk melakukan konsultasi dengan instansi-instansi kekuasaan dan seks itu sendiri ‘berbicara’ dalam bahasa yang sangat menjurus, disertai bertumpuk-tumpuk rincian.

Misalnya saja dapat kita lihat pada pastoral Katolik dan sakramen pengakuan dosa setelah Konsili Trente. Pengakuan dosa atas dosa pemuasan berahi semakin meningkat. Seks merupakan bahan pengakuan yang diunggulkan. Seks, menurut ajaran pastoral baru harus disebutkan dengan hati-hati ; namun berbagai aspeknya, korelasinya, serta dampaknya harus ditelusuri hingga ke rincian yang paling halus, yaitu suatu bayangan seksual dalam impian, suatu khayalan yang tidak mau segera hilang, satu hubungan yang sulit dihindari antara gerakan badan dan kenikmatan jiwa.
Nafsu berahi merupakan suatu penyakit yang menyerang manusia seutuhnya, dengan cara yang paling samar. Dibawah permukaan dosa, jaringan nafsu berahi saling berkaitan. Dibalik selubung suatu bahasa yang dijaga kemurniannya sedemikian rupa sehingga seks tidak disebut secara langsung, seks itu justru dipelihara, dan seolah dikejar, oleh suatu wacana yang tidak bersedia membiarkannya untuk menikmati ataupun berada dibawah perlindungan kesamaran.

Scientia Sexualis
Sejak tiga abad yang lalu, wacana seks menjadi hal yang semakin ramai diperbincangkan, termasuk oleh kaum ilmuwan dan ahli teori. Seks juga dijadikan komoditi ilmu pengetahuan. Seks dijadikan objek penelitian para ilmuwan, dan kemudian dari seks itu muncul pengetahuan yang baru.

Sampai zaman Freud, wacana seks –wacana ilmuwan dan ahli teori- hampir tidak pernah berhenti. Kenyataan bahwa kita telah berpretensi membicarakan seks dari sudut pandang yang dimurnikan dan netral, yaitu sudut pandang ilmiah, sebenarnya sangat mendukung seks untuk menjadi wacana public ditengah-tengah ‘ranjau’ larangan seks sebagai wacana public.

Hasil dari pengakuan seks secara ilmiah ialah seks dibagi menjadi 2 pandangan, seks dipandang dari segi biologis reproduksi dan dari segi kedokteran. Pengakuan seks secara ilmiah merupakan system paksaan besar dan tradisonal. Sistem paksaan yang dapat membuat seks dibangun secara ilmiah antara lain :
Pengakuan seksualitas dalam wilayah pengamatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Seks merupakan kekuasaan kausalitas yang tidak ada habisnya, sehingga menyebabkan keharusan mengatakan segala sesuatu dan kemampuan menanyakan segala sesuatu.
Asas menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang secara hakiki bersifat laten.
Dengan metode interpretasi

Pergeseran Seks Dari Privat ke Publik
Masalah seks yang tadinya dihalang-halangi keberadaannya bahkan seperti yang telah disinggung diatas seks benar-benar di kurung eksistensinya, ternyata tidak menunjukkan gejala keredupan. Justru seperti yang dijelaskan diatas bagaimana seks malah menjadi bola api yag tidak berhenti memancarkan cahayanya dalam ketabuan didalam pikiran masyarakat. Sudah tidak dapat dibendung lagi aliran wacana seks akhirnya membobol bendungan yang dibuat oleh social. Saat ini kita dapat lihat kasus seks yang diangkat terang-terangan ke permukaan. Keprivatan seks telah bergeser menjadi issu public. Misalnya saat ini kita dapat lihat pada talk-show di televisi. Tema yang diangkat tidak jarang mengenai seks, misalnya kasus aborsi, hamil di luar nikah, lesbian, homoseksual, dan lain sebagainya. Ikatan yang mengekang seks pelan-pelan mulai ‘dilonggarkan’ oleh masyarakat sendiri. Sosial mulai bisa membuka pikiran akan seksual, bahwa embicarakan seksual ternyata tidak selalu dikonotasikan jelek.

Seks Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Manusia
Seks yang mengalir deras ke segala arah masuk ke dalam setiap urusan manusia. Misalnya dalam bidang ekonomi. Dapat kita lihat bersama perempuan dalam peluncuran perdana suatu produk. Perempuan dieksploitasi kemolekan tubuhnya dalam memasarkan sebuah produk. Proses pemasaran itu tidak jarang terkesan melecehkan perempuan dengan mempertontonkan kemolekan tubuhnya. Kita tidak bisa lari bahwa perekonomian tidak bisa lepas dari unsur seksualitas.

Contoh lain misalnya dalam dunia politik. Masih banyak kita saksikan bersama sebagian masyarakat yang menganggap perempuan tidak boleh memimpin. Perempuan secara seksualitas dianggap sebagai kaum inferior yang berlaku pasif dalam berhubungan seks. Pemikiran ini dibawa-bawa ke dunia politik bahwa bagaimanapun lelaki tetap yang lebih pantas untuk memimpin.

Dalam dunia hiburan, seksuailitas juga menjadi topic menarik untuk diangkat. Dalam acara dangdut, goyangan perempuan sangat mempesona dan menjadi daya tarik tersendiri bagi sosial. Sedangkan didunia pendidikan, seksualitas juga menjadi bahan pelajaran. Dari mulai perkenalan alat-alat produksi manusia sampai proses pembuatan bayi dibahas dalam dunia pendidikan.

Seksualitas ada dimana-mana dan tidak dapat ditahan arus wacananya. Dalam politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa seksualitas tidak bisa diteruskan untuk diprivatisasi. Kondisi seks yang tertindas oleh kekuasaan yang mengekangnya mendapat ‘pembelaan’ secara tidak langsung dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu, seks mendapat tempat yang tidak ditabukan lagi oleh masyarakat.

Namun kita juga akhirnya tidak bisa menutup mata bahwa permasalahan yang melanda dunia, khususnya seks menjadi sesuatu yang paradoks, apakah akhirnya wujud keterbukaan dan ketelanjangan seksual adalah hal yang akan benar-benar kita terapkan dalam masyarakat kita khususnya di Indonesia? Lalu apakah legalitas terhadap wujud ketelanjangan tersebut dapat dinilai sebagai sesuatu yang baik menurut tataran moralitas? Atau memang wujud seks itu sendiri merupakan immoral? Lalu bagaimana sikap kita mengenai hal tersebut? tentunya apa yang akan menjadi pilihan kita selanjutnya pastilah memerlukan perenungan yang lebih mendalam.


Tulisan ini mengantarkan Ninik Sriyanti, Redaktur Pelaksana biRU periode 2005-2006, memperoleh beasiswa untuk mengikuti Workshop Jurnalisme sastrawi di Semarang, pada 7-12 Februari 2005

1 Comments:

At 7:58 PM, Anonymous bina badan said...

Dapatkan Panduan Bina Otot Badan Untuk Lelaki Agar Anda Kelihatan Lebih Macho Dan Kacak....Jangan Segan2.....Milikilah Badan Impian Anda Disini....

 

Post a Comment

<< Home

Free Web Site Template